Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti ibadah tahun baru lalu mengikuti acara tahun baru yang diselenggarakan oleh komunitas muda-mudi, yaitu nonton film bareng. Meskipun telah diingatkan judul filmnya oleh 'seseorang' tapi saat ini aku melupakannya lagi. Entah, kurasa karena momen ini adalah momen yang biasa. (Kalau tidak salah, film waktu itu adalah Mission Impossible).
Walaupun kala itu aku tidak begitu akrab dengan orang-orang di komunitas itu, aku memberanikan diri untuk menonton saja bersama dengan mereka. Untunglah ada Kak Dhev yang mengajakku ngobrol, lalu dia mengenalkanku pula pada seorang teman laki-lakinya. Namanya Vento. Dia lama tinggal di Kota Magelang dan sedang kuliah di salah satu universitas terbaik di Semarang. Kami menonton bersama malam itu bersama yang lainnya. Tanpa bertukar nomor telepon, tanpa tahu di mana rumahnya. Sangat biasa saja.
Ketika waktu sudah menunjukkan sekitar jam 3 pagi, Kak Dhev menyuruhku pulang karena sudah sangat pagi bagiku yang baru kelas 2 SMA untuk pulang. Awalnya aku tak mau, karena sungguh aku ingin sekali di luar rumah malam tahun baru ini, toh aku sudah pamit kedua orang tuaku, dan mereka tak khawatir karena tahu aku hanya mengikuti kegiatan yang diadakan komunitas ini. Namun, Kak Vento dan Kak Dhev mendesakku untuk pulang. Kak Vento menawarkan diri untuk mengantarku dan aku pun akhirnya mau.
Dari situlah dia tahu di mana rumahku. Aku diantarnya pulang dengan Megapro kesayangannya sampai depan gang rumahku. Dia bertanya dan kutunjukkan rumah pertama dari gang itu. Tak ada perasaan khusus waktu itu, sangat biasa. Dengan laki-laki berjaket jumper warna coklat ini, tak ada perasaan apapun.
Namun, kini semua telah berbeda. Waktu terus berputar. Kehidupan terus berjalan. Maka kutulis semua ini, kulipat, dan kumasukkan dalam saku kecil di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar