Waktu itu, saat masih berseragam putih abu-abu. Setelah kami
resmi pacaran dan merayakan hari kasih sayang itu.
“Kamu mau kado apa buat Valentine?” tanyanya padaku.
“Mmmm aku gak pengen apa-apa,” jawabku sambil tersenyum.
“Hmmm kok gitu, ayolah, kamu pengen apa?” dia mendesakku
untuk memberi jawaban.
Lalu kujawab, “Oke, aku pengen dibuatin pizza mi sama kamu.
Bisa?”
Dia setengah kaget mendengar permintaanku karena dia belum
pernah membuat pizza mi.
“Mmmm itu masaknya gimana?”
“Mi, direbus, ditirisin kalo udah mateng. Terus ambil telor.
Telornya dipecahin, dikocok. Terus mi-nya dimasukin ke telor tadi. Bisa ditambahin
sosis, sayur, kalo mau. Terus digoreng deh. Jadi. Eh, tapi gorengnya harus
rata. Kalo mi-nya ketebelan tar tengahnya gak mateng.”
“Ooo gitu doang? Oke.”
“Iya, gitu doang. Lha kamu, minta kado apa?”
“Mmmm aku pengen kamu rambutnya dikepang kaya Lara Croft.
Hehehee”
“Hah?? Yang kaya gimana itu ya?”
“Ya, yang itu… Yang ngepangnya dari atas itu lhoo..”, sambil
nunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.
“Oooo yang nempel..”
“Iya…”
“Oooo oke.”
Hahahaa. Sambil ketawa ketiwi kami janji untuk melakukan itu
di Hari Valentine yang jatuh tempo keesokannya.
Ya, dan benar saja. Setelah bel terakhir berbunyi, aku
meminta seorang temanku, Vanda, untuk mengepang rambutku karena aku tidak bisa
melakukannya sendiri. Yah, terlambat menemuinya tak apalah, yang penting bisa menuhin
permintaannya. Setelah misi selesai, aku langsung bergegas menemuinya yang
sudah menungguku di luar gerbang dengan motor kesayangannya.
“Hai… Taraaa…”, kataku dengan ceria sambil menunjukkan hasil
kepangan Vanda (*thanks Vanda…).
Dengan wajah senyum-senyum dia melihatku, menyuruhku
berputar, lalu mengajakku pulang dengan senyum yang belum menghilang dari
wajahnya. Cuaca yang cerah, matahari tak terlalu menyengat, dan awan begitu biru,
sangat mendukung perasaan kami saat itu. Kami pulang ke rumahnya untuk makan siang. J Ya, pizza mi
buatannya. Di sana kutemui ibu dan seorang adiknya. Kami makan bersama-sama.
“Ini yang bikin kamu kan?” tanyaku.
“Iya, beneran, tanya ibu deh kalo gak percaya.”
“Iya deh, iya…percaya kok…”
Ternyata, bisa juga dia masak. Hahahaaa. Dan pizza mi dengan
potongan sosis, berwarna kecoklatan, dan harum itu habis dalam sekejab. Entah
karena kami lapar atau memang enak buatannya.
Kami sama-sama tertawa di hari itu karena kekonyolan ini.
“Selamat Hari Valentine ya…” kata penutup momen kami saat
itu. Setelah saling memberi selamat, dia pun mengantarku pulang. Dan ini
menjadi momen indah kami.
Namun, kini semua telah berbeda. Waktu terus berputar.
Kehidupan terus berjalan. Maka kutulis semua ini, kulipat, dan kumasukkan dalam
saku kecil di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar