Sabtu, 15 Februari 2014

Remembering ‘bout Valentine Day

Waktu itu, saat masih berseragam putih abu-abu. Setelah kami resmi pacaran dan merayakan hari kasih sayang itu.

“Kamu mau kado apa buat Valentine?” tanyanya padaku.
“Mmmm aku gak pengen apa-apa,” jawabku sambil tersenyum.
“Hmmm kok gitu, ayolah, kamu pengen apa?” dia mendesakku untuk memberi jawaban.
Lalu kujawab, “Oke, aku pengen dibuatin pizza mi sama kamu. Bisa?”

Dia setengah kaget mendengar permintaanku karena dia belum pernah membuat pizza mi.

“Mmmm itu masaknya gimana?”
“Mi, direbus, ditirisin kalo udah mateng. Terus ambil telor. Telornya dipecahin, dikocok. Terus mi-nya dimasukin ke telor tadi. Bisa ditambahin sosis, sayur, kalo mau. Terus digoreng deh. Jadi. Eh, tapi gorengnya harus rata. Kalo mi-nya ketebelan tar tengahnya gak mateng.”
“Ooo gitu doang? Oke.”
“Iya, gitu doang. Lha kamu, minta kado apa?”
“Mmmm aku pengen kamu rambutnya dikepang kaya Lara Croft. Hehehee”
“Hah?? Yang kaya gimana itu ya?”
“Ya, yang itu… Yang ngepangnya dari atas itu lhoo..”, sambil nunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.
“Oooo yang nempel..”
“Iya…”
“Oooo oke.”

Hahahaa. Sambil ketawa ketiwi kami janji untuk melakukan itu di Hari Valentine yang jatuh tempo keesokannya.
Ya, dan benar saja. Setelah bel terakhir berbunyi, aku meminta seorang temanku, Vanda, untuk mengepang rambutku karena aku tidak bisa melakukannya sendiri. Yah, terlambat menemuinya tak apalah, yang penting bisa menuhin permintaannya. Setelah misi selesai, aku langsung bergegas menemuinya yang sudah menungguku di luar gerbang dengan motor kesayangannya.

“Hai… Taraaa…”, kataku dengan ceria sambil menunjukkan hasil kepangan Vanda (*thanks Vanda…).

Dengan wajah senyum-senyum dia melihatku, menyuruhku berputar, lalu mengajakku pulang dengan senyum yang belum menghilang dari wajahnya. Cuaca yang cerah, matahari tak terlalu menyengat, dan awan begitu biru, sangat mendukung perasaan kami saat itu. Kami pulang ke rumahnya untuk makan siang. J Ya, pizza mi buatannya. Di sana kutemui ibu dan seorang adiknya. Kami makan bersama-sama.

“Ini yang bikin kamu kan?” tanyaku.
“Iya, beneran, tanya ibu deh kalo gak percaya.”
“Iya deh, iya…percaya kok…”

Ternyata, bisa juga dia masak. Hahahaaa. Dan pizza mi dengan potongan sosis, berwarna kecoklatan, dan harum itu habis dalam sekejab. Entah karena kami lapar atau memang enak buatannya.

Kami sama-sama tertawa di hari itu karena kekonyolan ini.
“Selamat Hari Valentine ya…” kata penutup momen kami saat itu. Setelah saling memberi selamat, dia pun mengantarku pulang. Dan ini menjadi momen indah kami.


Namun, kini semua telah berbeda. Waktu terus berputar. Kehidupan terus berjalan. Maka kutulis semua ini, kulipat, dan kumasukkan dalam saku kecil di hatiku.

Rabu, 12 Februari 2014

When I First Met You

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2007. Kedua kakak laki-lakiku tidak tinggal di rumah karena mereka sekolah di luar kota. Ya, aku hanya sendiri saja bersama kedua orang tuaku. Aku hanya berpikir: "Aku ingin pergi keluar malam ini, aku tidak ingin sendirian di rumah di malam tahun baru ini". Yayaya, karena tahun sebelumnya aku hanya di rumah saja bersama kedua orangtuaku yang jam 10 malam sudah terlelap. Oh, tidak, kali ini aku tidak mau merasa sepi.

Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti ibadah tahun baru lalu mengikuti acara tahun baru yang diselenggarakan oleh komunitas muda-mudi, yaitu nonton film bareng. Meskipun telah diingatkan judul filmnya oleh 'seseorang' tapi saat ini aku melupakannya lagi. Entah, kurasa karena momen ini adalah momen yang biasa. (Kalau tidak salah, film waktu itu adalah Mission Impossible).

Walaupun kala itu aku tidak begitu akrab dengan orang-orang di komunitas itu, aku memberanikan diri untuk menonton saja bersama dengan mereka. Untunglah ada Kak Dhev yang mengajakku ngobrol, lalu dia mengenalkanku pula pada seorang teman laki-lakinya. Namanya Vento. Dia lama tinggal di Kota Magelang dan sedang kuliah di salah satu universitas terbaik di Semarang. Kami menonton bersama malam itu bersama yang lainnya. Tanpa bertukar nomor telepon, tanpa tahu di mana rumahnya. Sangat biasa saja.

Ketika waktu sudah menunjukkan sekitar jam 3 pagi, Kak Dhev menyuruhku pulang karena sudah sangat pagi bagiku yang baru kelas 2 SMA untuk pulang. Awalnya aku tak mau, karena sungguh aku ingin sekali di luar rumah malam tahun baru ini, toh aku sudah pamit kedua orang tuaku, dan mereka tak khawatir karena tahu aku hanya mengikuti kegiatan yang diadakan komunitas ini. Namun, Kak Vento dan Kak Dhev mendesakku untuk pulang. Kak Vento menawarkan diri untuk mengantarku dan aku pun akhirnya mau.

Dari situlah dia tahu di mana rumahku. Aku diantarnya pulang dengan Megapro kesayangannya sampai depan gang rumahku. Dia bertanya dan kutunjukkan rumah pertama dari gang itu. Tak ada perasaan khusus waktu itu, sangat biasa. Dengan laki-laki berjaket jumper warna coklat ini, tak ada perasaan apapun.

Namun, kini semua telah berbeda. Waktu terus berputar. Kehidupan terus berjalan. Maka kutulis semua ini, kulipat, dan kumasukkan dalam saku kecil di hatiku.